Suatu ketika, Hasan al-Bashri (21-110 H)- seorang ulama besar dari kalangan Tabi`in dan tokoh sufi yang lahir di Madinah dan besar Bashrah- pergi ke sebuah masjid guna mendirikan shalat Maghrib. Setelah masuk, ternyata shalat Maghrib telah didirikan secara berjamaah dengan diimami oleh Habib al-`Ajami, salah seorang "muridnya" yang masih keturunan Persia.
Hasan al-Bashri tahu persis bahwa bacaan al-Qur`an Habib al-`Ajami, yang memang bukan orang Arab asli, tidak fasih, tidak sesuai dengan kaedah ilmu Tajwid dan banyak terdapat kesalahan dalam bacaan (lahn). Oleh sebab itu, ia merasa enggan bermakum kepadanya dan memutuskan untuk mendirikan shalat Maghrib sendirian (munfarid).
Apa dinyana, pada malam harinya ia bermimpi mendapat teguran dari Allah swt. dan dikatakan kepadanya:
لو صليت خلفه لغفرنا ما تقدم من ذنبك وما تأخر
Seandainya engkau mau shalat (bermakmum) di belakangnya (Habib al-`Ajami), maka aku pasti mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan terjadi.
Kisah menarik ini banyak diceritakan oleh para ulama dan sejarawan, di antaranya oleh Zakaria bin Muhammad bin Mahmud al-Qazwini dalam `Ajā`ib al-Makhlûqāt wa Gharā`ib al-Maujûdāt (h.343) dan oleh Syekh Dhiyāuddin Ahmad bin Mushthafa dalam Jāmi` al-Ushûl fi al-Auliyā` (hal. 344).
Pengalaman ini begitu melekat dalam ingatan Hasan al-Bashri dan menjadi pelajaran dalam hidupnya. Bagaimana Allah swt. memberikan teguran kepadanya disebabkan “keangkuhan dan kesombongan” yang sempat bersemayam dalam dirinya. Ia menganggap rendah kepada Habib al-`Ajami yang bacaannya kurang fasih, sementara menganggap dirinya lebih baik dan lebih utama hanya karena lidahnya lebih fasih dalam melafalkan al-Qur`an. Ia tidak menyadari bahwa kala itu Allah swt. tidak hanya menilai bacaan yang tampak dari luar, namun lebih ke dalam lagi dengan memperhatikan pada keikhlasan yang dimilikinya.
Kisah yang terjadi antar dua kekasih Allah swt. ini telah lama berlalu. Namun boleh jadi, kejadian-kejadian serupa kerap kita jumpai di sekeliling kita atau bahkan mungkin kita sendiri yang sedang memerankannya. Berapa banyak orang-orang yang sering dianggap remeh hanya karna pendidikannya rendah atau tingkat pemahaman keagamaannya masih dangkal. Bahkan di jagad per-medsos-san, kerap kita temui, kasus-kasus pembulian yang disebabkan hanya karna salah baca dan salah ucap.
Masih ingat dengan kasus salah tashrif yang dialami oleh dua orang penceramah ? tak ayal publikpun menghakiminya. Kasus ter-anyar yang dialami oleh pendakwah nyentrik di Indonesia, salah dalam membaca kitab kuning saat memberikan klarifikasi, yang pada akhirnya menimbulkan ragam komentar dan hujatan dari berbagai kalangan yang merasa tingkat kealimannya jauh lebih mumpuni.
Oleh sebab itu, bijak dalam menyikapi segala hal yang terjadi penting untuk dilakukan. Boleh jadi, apa yang kita pandang buruk, ternyata ia menyimpan kebaikan di sisi Allah swt, begitupun sebaliknya. Boleh jadi, yang selama ini sering dipandang rendah, bodoh dan hina, ternyata ia memiliki keistimewaan tersendiri di sisi Allah swt. Ia, hidup adalah misteri, oleh karnanya perlu menjalani hidup ini dengan penuh hati-hati.
Ibnu Atha`illah as-Sakandari pernah berpesan dalam kalam hikmahnya:
زينوا أعمالكم بالمعاصي و لا تزينوا نفسك بالطاعة
“Hiasilah amal-amal perbuatanmu dengan kemaksiatan dan janganlah hiasi dirimu dengan ketaatan”.
Apa yang dimaksudkan oleh penulis al-Hikam ini tentu tidak dapat dipahami secara literal, karna dapat mengakibatkan pada kerancuan. Melalui kalam ini, Syekh Ibnu Atha`illah ingin menekankan bahwa dalam menjalani hidup ini jangan merasa banyak amal, jangan merasa sudah purna dalam ketaatan kepada Allah swt., tetapi merasalah banyak dosa dan seakan bergelimang maksiat. Mengapa? Karena saat kita menghisai diri dengan merasa bodoh, banyak salah dan dosa, maka kita tidak akan memandang rendah terhadap orang lain serta merasa lebih tinggi darinya hanya karena menakar sekolah, lulusan dan tingkat pendidikannya. Selain itu, selalu berada di maqam kekurangan akan kian memotivasi diri untuk terus belajar dan tidak meremehkan orang lain.
Orang tua dulu sering mengingatkan, pandai-pandailah merasa, namun jangan pernah merasa pandai.

Posting Komentar